≡ Menu

Travelling Plan Tahun Depan

Tahun 2015 akan segera berakhir. Waktu terasa cepat sekali berlalu, saya tidak sempat menghitung berapa daerah yang telah saya kunjungi tahun ini. Di awal tahun, saya sering melakukan one day trip dengan mengunjungi beberapa daerah di Jawa Barat dan Banten. Kemudian pertengahan tahun, saya mencoba hiking Gunung Lawu, keliling Jawa Tengah, Jawa Timur, dan beberapa daerah di Sulawesi Selatan dan Tengah. Di akhir tahun, jadwal perjalanan semakin padat, mulai dari sekedar mengelilingi Kota Jakarta, ke Bandung, bahkan sampai ke Malaysia dan Singapura. Mungkin tahun ini, saya akan mengakhiri perjalanan dengan berkunjung kembali ke Jawa Timur. Entah kenapa, saya sangat jatuh cinta dengan Kota Malang. Kota tersebut terasa seperti kampung halaman saya, Kota Balikpapan.

Beberapa perjalanan awal saya tahun ini benar-benar tanpa ada rencana, langsung tancap gas. Semakin banyak perjalanan yang saya lakukan, semakin saya sadar bahwa menyusun rencana perjalanan sangatlah penting. Ada beberapa alasan mengapa menyusun rencana sebelum memulai perjalanan menjadi sangat penting. Pertama, dengan menyusun perjalanan, kita bisa mengeksplorasi tempat yang ingin kita tuju dengan optimal. Hal ini terasa sekali karena pada perjalanan-perjalanan awal saya tahun ini, saya merasa tidak optimal mengeksplorasi tempat yang saya kunjungi. Kedua, kita dapat melakukan budgeting dengan baik dan ketiga, kita bisa mengajak lebih banyak teman dalam perjalanan kita.

Prinsip “Hajar Bleh” dalam Travelling

Teringat ketika saya berada di Jogja, saat itu benar-benar tidak ada agenda. Teman saya mengajak untuk naik ke Gunung Purba, akhirnya saya ikuti saja. Saya lupa bahwa kereta saya menuju Malang akan berangkat jam 7 pagi. Saat itu, saya mengejar sunrise di sana dan baru turun gunung sekitar jam 6 kurang. Perjalanan dari kawasan Gunung Purba menuju Stasiun Tugu cukup memakan waktu, akhirnya saya memaksa teman saya untuk ngebut. Saya dan teman tergesa-gesa menuju kereta yang sudah mulai berjalan keluar dari stasiun. Untung saja, kaki saya masih bisa menginjak kereta dan naik ke dalam kereta.

Ketika saya dan teman-teman berada di Gunung Lawu, kami benar-benar tidak memiliki persiapan yang cukup. Yang kami tahu adalah kami membeli tiket kereta ke Ngawi dan naik Gunung Lawu lalu pulang. Kami lupa bahwa saat itu masih musim hujan. Kami tidak memiliki persiapan yang cukup, beberapa teman saya tidak memiliki fisik yang prima saat memulai pendakian, kami juga tidak mengatur target pencapaian secara ketat dalam pendakian. Alhasil, ketika malam datang, kami masih berada di tengah hutan dan parahnya, malam itu terjadi badai yang cukup hebat hingga membuat tenda kami rubuh beberapa kali.

Masih banyak cerita saya tentang melakukan perjalanan dengan prinsip “hajar bleh” alias asal tancap gas. Dari beberapa pengalaman tersebut, saya sadar tentang pentingnya menyusun travelling plan sebelum melakukan perjalanan.

Plan It

Banyak yang mengatakan bahwa perjalanan yang mendadak itu sangat menyenangkan. Saya setuju dengan pernyataan tersebut, tiga minggu lalu, saya melakukan pendakian yang benar-benar mendadak ke Gunung Papandayan, sore itu saya tiba-tiba diajak teman untuk berangkat, dan malamnya saya langsung berangkat ke Garut. It was fun.

Tapi… Meskipun mendadak, perjalanan tersebut bukanlah tanpa rencana. Kami langsung merencanakan tentang perlengkapan yang mesti dibawa. Kami juga langsung hitung budget yang kira-kira diperlukan. Sebelum berangkat, kami semua browsing tentang Gunung Papandan dan how to get there. Sehingga meskipun terkesan seperti perjalanan yang menggunakan prinsip “hajar bleh”, sebenarnya perjalanan tersebut merupakan perjalanan yang terencana. Ya, saya dan teman-teman menerapkan perencanaan sebelum memulai perjalanan dan it works!

Pada saat perjalanan ke Singapura bersama keluarga, kami benar-benar merencanakan tempat apa saja yang akan kami kunjungi dan dengan perencanaan itu, perjalanan kami menjadi lebih tertata dan lebih optimal. Pengalaman saya melakukan perjalanan bersama keluarga, tiga tahun lalu, saya bersama keluarga juga ke Singapura, saya sangat tidak menikmati perjalanan bersama keluarga karena sangat merepotkan dan cenderung kurang asyik, namun setelah melakukan perencanaan ternyata perjalanan bersama keluarga-pun terasa asyik.

Tapi ada satu permasalahan…

Setiap saya merencanakan perjalanan, saya kebingungan mencari sumber informasi. Beberapa informasi di internet sangat subyektif dan yang paling sering terjadi adalah apa yang saya baca di internet tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan pada saat saya mengunjungi destinasi tersebut.

Beberapa kali saya ke toko buku, saya menemukan banyak buku travelling dan rata-rata hanya menyajikan informasi yang sebenarnya bisa saja saya dapat dari internet, too general. Ada juga beberapa buku travelling yang menceritakan tentang pengalaman mereka sendiri dalam melakukan perjalanan, too specific.

Suatu hari, saya melihat post di Path tentang buku berjudul Best of Tokyo yang ditulis oleh salah satu dosen saya bersama dua orang temannya. Beliau adalah Pak Odi Akhyarsi, beliau pernah tinggal di Jepang selama hampir 10 tahun dalam rangka menyelesaikan studi S2 dan S3 sehingga beliau hafal mati tentang Tokyo.

Dari gaya penulisan, saya sudah tidak ragu lagi dengan beliau. Saya masih ingat ketika beliau memangkas 3 halaman laporan saya menjadi 1 halaman saja. Hal itu membuat laporan saya menjadi full of meat. Saya suka membaca buku dengan tulisan berbobot dan tidak panjang lebar.

Sejujurnya, saya jarang membaca buku travelling sehingga tidak bisa terlalu membandingkan buku ini dengan buku lainnya. Tapi dari pengalaman saya membaca buku travelling, saya tidak pernah puas. Saya tidak bisa menemukan informasi mendetail tentang suatu destinasi. Saya tidak mengerti kondisi destinasi pada waktu-waktu tertentu. Saya tidak merasa siap melancong ke destinasi tersebut.

Tapi di buku ini, somehow, saya merasa siap untuk melancong ke Tokyo bahkan kalau mungkin saya mau solo travelling kesana. Semuanya sudah ada di sini. Apa saja keuntungan saya berkunjung ke Jepang pada musim panas, dingin, semi, dan gugur hingga sikap duduk di Jepang pun sudah dijelaskan di buku ini. Semuanya benar-benar dibahas, bahkan hal mendasar seperti jenis charger yang digunakan disana.

Lalu, apa rencana travelling tahun depan?

Prioritas utama saya tahun depan adalah menjajal semua gunung di Jawa Barat. Sejauh ini, saya telah mendaki tiga gunung di Jawa Barat, Gunung Gede, Gunung Papandayan, dan Gunung Guntur. Saya belum tahu berapa jumlah gunung di Jawa Barat tapi saya sangat ingin menaklukan seluruh gunung tahun ini.

Jika teman-teman melihat hashtag di Twitter saya yaitu #34before23, itu adalah misi pribadi yang ingin saya jalankan. Saya harus mengunjungi 34 provinsi di Indonesia sebelum berumur 23 tahun. Saya lupa sudah berapa provinsi yang saya kunjungi, ada di buku catatan saya, mungkin sekitar 18 atau 20 provinsi lagi yang belum saya kunjungi.

Selain itu, beberapa kali kakak saya mengajak untuk melancong ke Jepang. Sebenarnya saya paling tidak tertarik berkunjung ke luar negeri karena takut tidak mengerti apa-apa di sana. Saya juga orang yang tidak suka jika harus ikut travel agent untuk melancong karena terkesan kaku dan tidak bisa mengeksplorasi tempat-tempat yang unik, hanya sebatas berkunjung tempat yang dikhususkan untuk wisatawan (too mainstream), tapi setelah membaca buku Best of Tokyo. Saya merasa, let’s give it a try. Jika ada rezeki, maka negara yang ingin saya kunjungi tahun depan adalah Jepang. :)

About the author : Loves talking about ideas. Currently studies Technopreneurship at Surya University. Traveller. Nice guy.
{ 1 comment… add one }
  • Odi December 6, 2015, 10:32 AM

    A good piece of writing by an ambitious but reasonable young man. I hope your plan works well.

    It is also nice to know that my book “Best of Tokyo” (available in Gramedia and other major bookstores in Indonesia) helps travellers in planning their journey.

Leave a Comment