≡ Menu

Beda Startup dengan Bisnis Kecil

Beda Startup dengan Bisnis Kecil

Startup menjadi kata yang populer belakangan ini di Indonesia. Kehadiran kata ini seakan mendorong para anak muda untuk menciptakan inovasi dan memecahkan berbagai masalah yang ada di lingkungan sekitarnya dengan cara-cara yang kreatif. Rasa-rasanya, beberapa anak muda lebih senang membangun startup dibandingkan bekerja di perusahaan. Selain itu, kehadiran jurusan entrepreneurship dan sebagainya turut mendorong terciptanya startup-startup baru di Indonesia.

Lalu apa sebenarnya startup? Apa yang membedakan startup dari bisnis kecil pada umumnya? Banyak definisi yang menjelaskan tentang startup. Ada dua definisi yang saya suka dan setuju yaitu dari Eric Ries dan Peter Thiel.

Menurut Eric Ries dalam bukunya yang berjudul Lean Startup mengatakan bahwa, “A startup is a human institution designed to create a new product or service under conditions of extreme uncertainty”.

Peter Thiel mengatakan dalam bukunya yang berjudul Zero to One bahwa, “… a startup is the largest group of people you can convince of a plan to build a different future”.

Kedua definisi tersebut memiliki kesamaan yaitu, tim. Anda tidak akan bisa menjalankan startup sendiri, berbeda dengan bisnis kecil, Anda bisa membuka bisnis seorang diri, selama Anda memiliki modal dan tempat usaha, Anda bisa menjalankan bisnis. Meskipun banyak yang mengatakan bahwa Mark Zuckerberg membangun startupnya sendiri, ya, pada awalnya, namun sekarang? Untuk menjalankannya Facebook memiliki kantor dimana-mana bahkan di Jakarta. Baru-baru ini ada berita megenai ViralNova, sebuah startup yang dijalankan sendiri oleh Scott DeLong dan berhasil diakuisisi senilai $100 juta. Jika diperhatikan, sebenarnya DeLong memiliki tim, entah itu full time, part time, atau freelance.

Selain itu, dikatakan oleh Ries bahwa, “… under conditions of extreme uncertainty” dan Thiel mengatakan bahwa, “… to build a different future”. Hal ini sejalan dengan definisi inovasi oleh Sullivan yaitu,

Innovation is the process of making changes, large and small, radical and incremental, to products, processes, and services that results in the introduction of something new for the organization that adds value to customers and contributes to the knowledge store of the organization.

Startup menawarkan sesuatu yang baru kepada pelanggan dan sesuatu yang baru tersebut belum tentu bisa diterima oleh pelanggan. Inilah mengapa saya senang dengan dunia startup. Startup berkaitan erat dengan menciptakan sesuatu yang baru dan bisa mengubah masa depan.

Contoh saja PayPal, saya mulai familiar dengan sistem pembayaran ini sejak menjadi internet marketer. PayPal telah mengubah cara orang bertransaksi. Dahulu, sangat sulit bagi orang untuk menerima pembayaran dengan mudah lintas negara, mereka perlu menggunakan cek untuk melakukan transaksi. Namun sekarang, dengan adanya PayPal semua transaksi bisa didapatkan secara instan dan bisa segera dicairkan ke rekening pribadi.

Contoh lain adalah Facebook, sebuah media sosial yang telah mengubah cara kita berkomunikasi. Dahulu kita bertemu langsung atau menggukan email, Skype, Yahoo! Messenger, AOL, mIRC, saling memberi komentar di blog, dan sebagainya untuk berkomunikasi secara online. Namun kehadiran Facebook telah mengubah cara manusia berkomunikasi dan bisa terhubung ke orang-orang yang penting baginya.

Di Indonesia ada Go-Jek, sebuah startup yang memungkinkan pengguna untuk memesan ojek melalui aplikasi smartphone. Dahulu tukang ojek bersifat pasif, yaitu menunggu ada penumpang di pangkalan. Namun, dengan kehadiran Go-Jek, para tukang ojek bersifat aktif dan jemput bola mengambil pesanan yang tersedia.

Meskipun contoh yang saya berikan di atas hanya menunjukkan startup yang bergerak di industri digital, sebenarnya startup tidak sebatas itu, startup mencakup seluruh industri. Sebagai contoh, Tesla, sebuah perusahaan otomotif yang menawarkan mobil listrik.

Keempatnya menawarkan sesuatu yang baru (inovasi) dan ketiganya menciptakan dunia yang berbeda dari sebelum kehadirannya. PayPal menawarkan cara baru dalam bertransaksi, Facebook menawarkan cara baru dalam berkomunikasi, dan Go-Jek menawarkan cara baru dalam memesan ojek, Tesla menawarkan bahan bakar baru untuk kendaraan. Inilah yang membedakan startup dengan bisnis kecil lainnya, inovasi.

Namun, bukankah perusahaan yang telah besar seperti Facebook seharusnya sudah dikategorikan sebagai enterprise? Terlepas dari berapa aset yang dimiliki, jumlah karyawan, dan lainnya. Namun sesuai dengan definisi dari Ries dan Thiel di atas, mereka tidak menyebutkan besarnya perusahaan, sehingga saya rasa perusahaan-perusahaan tersebut masih pantas disebut startup. Lebih dari itu, startup juga telah menjadi nama dari kultur perusahaan yang tidak memandang jabatan dan semua orang bisa meleparkan ide mereka tanpa birokrasi yang berbelit seperti di perusahaan pada umumnya.

Apa lagi yang membedakan startup dan bisnis lainnya? Silakan tulis pendapat Anda di kolom komentar di bawah ini. Saya akan senang untuk membahasnya lebih mendalam di artikel berikutnya.

About the author : Loves talking about ideas. Currently studies Technopreneurship at Surya University. Traveller. Nice guy.
{ 2 comments… add one }

Leave a Comment

Next post:

Previous post: